Aku lahir di pengujung Syaban 1431. Tepat sehari atau beberapa jam Ramadhan tiba. Aku sudah delapan bulan lewat beberapa pekan di rahim bunda. Kata Dokter Yanah, kandungan bunda kecil. Untuk itu bundaku diminta banyak makan biar aku ketika lahir memiliki bobot cukup.
Sehari jelang Ramadhan 1431, ayah membawa aku dan bunda ke klinik Dokter Yanah. Pada pemeriksaan terkahir itulah bundaku diminta ke klinik untuk dilakukan pemercepatan. Artinya, aku harus segera dikeluarkan. Insya Allah, semua itu buat kebaikanku.
Tepat pukul 12.00 bundaku diberi obat perangsang, sementara ayahky menemani setia. Aku bisa merasakan kedekatan orangtuaku itu. Aku ingin segera bisa melihat wajah bunda, wajah ayah, dan wajah saudara-saudara di Yogyakarta dan Jawa Barat.
Melalui perjuangan berat, tepat beberapa menit berganti hari, aku akhirnya lahir. Pukul 23.25 aku yang masih sesosok bayi mungil berwarna merah berteriak keras.
"Oaaa....oaaaa....oaa...."
Alhamdulillah, aku bisa lahir. Jasadku utuh. Aku bisa merasakan adanya raut kegembiraan pada bundaku, juga ayahku. Sayang, aku tak bisa melihat langsung karena penglihatanku belum masanya memandang jernih kedua orang tersayangku.
Berikutnya, aku didekapkan ke dada bunda, dengan dibantu nenek dan kakak perawat. Di sisi ranjang, kudengat lamat-lamat suara ayah mengumandangkan azan. Ya, telingaku diisi pertama dengan kalimat-kalimat dari Illahi, berikutnya diteruskan beberapa hafalan surat yang melekat di ayah.
Hari itu sepertinya bakal menjadi hari yang akan kukenang terus. Tentang perjuangan bunda; tentang doa ayah dan orang-orang tercinta dan para sahabat ayah-bunda. Juga kerja gigih Bu Dokter dan kakak-kakak perawat. Alhamdulillah, Emira kini bisa menghirup udara segar, memandangi hijaunya dedaunan dan menatap elok wajah bunda dan ayah dari kereta dorong kesayanganku.
Terima kasih semuanya, semoga Allah membalas amal baik kalian!
